Ketika 17 Agustus Hanya Diukur dari Hadiah Lomba, Ke Mana Hilangnya Makna Kemerdekaan?
OPINI BUDAYA | PALU - Setiap bulan Agustus, gang-gang kampung hingga halaman kantor pemerintahan di Sulawesi Tengah selalu meriah. Bendera kecil berkibar, tenda lomba berdiri, dan tawa anak-anak pecah dalam lomba balap karung hingga panjat pinang.
Namun dibalik kemeriahan itu, sebuah pertanyaan penting mulai mengemuka jangan-jangan kita telah mereduksi makna kemerdekaan hanya sebatas siapa yang mendapat hadiah paling besar?
Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI seharusnya tidak berhenti pada rebutan hadiah, panggung hiburan, dan euforia sesaat. Jika ukurannya hanya hadiah, maka setelah lomba selesai, selesai pula nasionalisme kita.
Padahal 17 Agustus 1945 belum lahir dari panggung hiburan. Ia lahir dari detik-detik yang menegangkan, dari pengorbanan, dari pertaruhan nyawa dan darah para pahlawan. Proklamasi bukan sekedar seremoni, ia adalah janji suci untuk merdeka seutuhnya sebagai bangsa.
“Hadiah lomba bisa habis dalam sehari.Tetapi makna kemerdekaan seharusnya hidup sepanjang masa,” ujar Andrifal IA Latomaria, Pegiat Budaya Sulawesi Tengah.
Menurut Andrifal, ada gejala pelik yang harus kita waspadai bersama. Anak-anak kita hafal hadiah lomba 17-an, tetapi mulai lupa siapa nama pahlawan di desanya. Kita sibuk menyiapkan sound system untuk joget, tapi lupa menyiapkan ruang refleksi untuk mengenang jasa para pendahulunya.
Lalu, bagaimana seharusnya kita memaknai kemerdekaan?
Kemerdekaan bukan hanya tentang merayakan, tetapi tentang mengingat, menghargai, dan mengisi. Mengingat bahwa harga kemerdekaan itu mahal. Menghargai dengan cara menjaga persatuan di tengah perbedaan, khususnya di Sulawesi Tengah yang begitu beragam. Dan mengisinya dengan tanggung jawab: menjadi warga yang jujur, peduli lingkungan, kritis terhadap ketidakadilan, dan berkarya untuk daerahnya.
Jika 17 Agustus hanya diisi lomba makan kerupuk tanpa pesan kebersamaan, hanya panjat pinang tanpa pelajaran gotong royong, maka kita kehilangan ruhnya.
Tahun ini, mari kita kembalikan 17 Agustus ke tempatnya yang terhormat. Bukan anti terhadap lomba dan hadiah karena itu adalah ekspresi kegembiraan rakyat yang patut dijaga. Namun jangan sampai hadiahnya lebih diingat daripada sejarahnya.
Merdeka yang sejati bukan ketika kita memenangkan lomba, melainkan ketika kita mampu memerdekakan pikiran dari apatisme, memerdekakan lingkungan dari sampah, dan memerdekakan sesama dari kesulitan.
Dirgahayu Indonesia. Merdeka bukan hanya dirayakan, tapi dihidupkan kembali.
Penulis: Andrifal IA Latomaria
Pegiat Budaya Sulawesi Tengah
Komentar (0)
Belum ada komentar.